Waktu Sekarang

Yang tidak aku punya adalah waktu

Ketika besok itu menjadi hari ini

Dan hari ini yang menjadi kemarin

Malam dan siang berganti seperti hitungan jari

Satu…

Dua…

Tiga…

Kadang pikiran ini yang menyesatkan

Rasa yang kian lama kian semu

Dan semuanya jadi biasa saja

Bahkan rasa kesepian ini

Empat…

Lima…

Orang banyak yang ingin membunuh waktu

Atau berharap masa lalu akan terulang

Aku hanya ingin menikmati satu waktu saat ini

Tidak punya kenangan atau masa depan

Enam..

Tujuh…

Jangan salahkan keadaan yang membunuh perasaanku

Jangan salahkan diriku yang tak bisa bertahan

Jangan runut lagi waktu kebelakang

Jangan bicara lagi tentang masa depan

Delapan…

Sembilan…

Sepuluh…

Nah, matahari telah datang

Hari ini telah menjadi kemaren, dan besok telah menjadi hari ini

Aku tidak tau bagaimana denganmu

Aku tidak maju dan tidak pula mundur

Dan aku tak peduli lagi…

Waktu

Hari ini salah satu sahabat saya diwisuda, dan besok dia akan kembali ke Jakarta, kembali bekerja. Ya, dia diterima bekerja di Jakarta setelah sidang skripsi kemaren. 

Meski kami jarang bertemu, sedih juga mengingat dia tidak satu kota lagi dengan kami yang masih harus berjuang dengan ‘sekolah’ kami. Kembali waktu yang bermain, setiap kali ada yang lulus, setiap kali ada yang mendapat pekerjaan diluar kota, setiap kali itu juga saya menyadari kalau life cirkle itu sedang berjalan. Hari ini giliran sahabat saya, mungkin tahun depan giliran saya, but who knows?


Ada lagi satu cerita ketika kekasih saya harus bekerja di luar kota, kota yang jauh hampir diujung Sumatera, harusnya yang paling sedih adalah saya yang ditinggal sendiri disini. Tapi yang mengantar dia dengan air mata hingga masuk bandara adalah sahabatnya yang telah bertahun-tahun bersama sejak masih sekolah dulu. Sementara saya cuma bisa terdiam, tidak menangis atau bergabung dengan mereka, dari jauh hanya membisu menatap pemandangan haru yang baru kali itu saya lihat.

Ketika semua hal kita jalani bersama selama ini, ada waktunya kita akan jalan dijalan masing-masing sendiri, memilih jalan hidup sendiri, untuk cita-cita sendiri. Suatu saat akan ada waktunya bagi kami, kita, akan bertemu lagi. Mungkin saat kami telah menggendong anak-anak kami, atau ketika kami telah memiliki rambut rambut putih dikepala kami, dan yang kami ceritakan adalah masa-masa muda ketika kami bersama dan ketika kami sedang terpisah jauh… 

Semuanya hanya tentang waktu, lalu menunggu… :)

Today

Kangen, lagi lagi kata itu. Seperti cuma ada satu kosa kata itu yang ada, dan paling sering terlintas dalam pikiranku. Butuh waktu lama untuk mengerti maknanya, dan butuh waktu lebih lama lagi untuk menyadari aku sedang merasakannya. Senja senja mendung dan malam yang dibasahi hujan, membuat kenangan tak cukup lagi menghangatkan suasana yang kian pekat dinginnya.

Lidah yang kelu terus terusan membuatku jengah, seperti portal, ada sesuatu yang menghalangiku… Padahal kita sama sama tau, rasa dan rasa dan rasa itu ada, kita punya masing masing. Aku hanya membiarkannya berlalu daripada menggubrisnya, seperti angin yang mengayunkan nyiur, aku hanya berlalu…

Ada kabut yang tak berurai, mengaburkan pandangan sehingga aku tak bisa melihat dengan jelas. Masih ada yang harus dipertanyakan, meski aku tau jawabannya, tapi aku tak pernah cukup merasa puas. Lalu aku mulai mempersalahkan sesuatu, dan sesuatu itu seperti kabut yang tak berurai…

Lingkaran infiniti itu yang terus terusan memenjarakan opsi, opini, dan opportunity. Maka tidak beruntunglah dia saat itu… Sekiranya memang ini yang tertulis untuk kita, aku tak ragu ragu untuk terus mencatat, meski jari akan keram dan akan ada air mata untuk menghapus tulisan yang salah. 

Untuk kamu yang masih linglung melangkah, lihat aku disini masih tetap berdiri, hanya aku terlalu malas bersamamu untuk melangkah dan mengejar sesuatu yang masih bebas, kesana kemari… Kemarilah… Genggam tanganku erat ketika kau sudah mengikat tujuanmu, dan ikatlah bersamaku.

Kemarilah, peluk aku… 

FREEDIVING

Kegiatannya cuma menahan napas selama mungkin dan berenang sejauh mungkin didasar air, what a simple thing to do…

Tapi jauh dibalik itu ada sesuatu, its something…

Ketika jemari kaki merasakan dinginnya air, dan tangan mulai menyibak isi kolam, lalu tawa dan canda orang orang yang sibuk memasang fin dan masker. Judulnya pemanasan, tapi lebih banyak gerakan tidak penting karena sibuk diganggu gugat pihak lain, ada pula yang memilih langsung terjun kekolam dengan alasan tak tahan melihat air.

Dari pagi hingga petang menjelang, satu hari itu rasanya tak lepas rindu melihat air. Tak puas puas bahkan hingga kulit menghitam, tapi tetap dengan bangga berteriak saya cinta air…

Ada suatu saat ketika kita akhirnya bisa merasakan yang namanya “air” sungguhan, berasa asin dan tidak ada dikota Bandung. Beribu ribu biota laut mampu hidup dikolam raksasa itu, dan kita begitu bangga bisa menyelam disana, merasakan dan melihat yang namanya hidup di “wadah” yang berbeda.

Hidup… Wajah wajah sumringah itu selalu terkenang, hidup dalam ingatan, bahkan ketika kembali latihan kekolam, meski letih terombang ambing dikapal dan menempuh jalan darat sedari dini hari dan pulang larut malam, tidak ada kata kapok dalam niat meski bulu babi dan ubur ubur menyerang, demi melihat penyu liar dilaut lepas dan ikan nemo yang menari di anemon laut kami berani bersumpah, bahwa akan banyak lagi lautan yang akan kami cicipi. Ada banyak lagi hingga kita tak dapat lagi menggerakkan fin fin dikaki kita…

Hingga tak dapat lagi menggerakkan fin dikaki, adalah waktu yang tak hingga… Selama lautan lepas masi berisi air asin, kami akan terus berjaya meskipun tiap minggu harus terus menghitam di kolam UPI, our “home”…

I called it home, because i think i found a new family here

A smile, a laugh, and everything we share is “one breath”, satu nafas, berlomba lomba siapa yang mampu menahan napas paling lama saat latihan statik dan menjadi idiot sama sama karena terlalu sering latihan statik, thats okey as long as we do it together, i think we should doing yoga after that sometimes… 

Senang bertemu teman yang satu misi mencicipi lautan, mungkin suatu saat salah satu kalian yang akan menjadi buddy saat saya menyelam bersama whale shark di Nabire Papua, mungkin juga salah satu kalian yang membuat mimpi saya menjadi kenyataan, tapi setidaknya saya punya cerita untuk anak anak saya kelak, bahwa saya punya pengalaman yang amazing diwaktu muda, hahaha…

Terimakasih freediver Bandung,

Terimakasih…

Salam satu nafas, freedriver INDONESIA

Ada masa ketika aku terpaku menatap cermin, memandang pantulan wajah lusuh yang tanpa senyum, memandang kosong pada kehampaan dan binar mata yang kian meredup. Wajah itu terlihat letih, kusam dan tidak menunjukkan suatu ekspresi, hingga suatu ketika sudut bibir itu kian mencekung, bungkam cemberut, dan melenguh lelah, dan kemudian memejamkan mata lalu tertunduk. Entah apa yang aku pikirkan saat itu, yang kurasa hanya sendiri… 

Aku merasa bersalah, aku kehilangan semangat, aku membiarkan diriku ikut terhanyut perasaan orang lain, aku biarkan pengaruh itu tetap mempengaruhiku. Banyak berbicara hanya membuat suara hilang, banyak melihat hanya akan membutakanmu, banyak mendengar hanya membuatmu mendengarkan ocehan-ocehan sumpah serapah setan yang berapi-api. Siapa yang bisa dipercaya? 

HARRYDHARMARAFKE

Hanya matamu yang berbisik

Antara senyum dan degup jantung yang berdetak

Riuh rendah dalam suara lainnya

Rasa yang kurasa

Yang kau berikan…

Diammu mengisyaratkan sesuatu

Heningmu menjebakku

Aku terpaku dalam dekap belaimu

Rayuan tentang cinta yang kau sebut

Mampu membuatku tak lepas arah padamu

Aku tersipu…

Resah yang kita jalani

Asa yang berusaha kita rajut

Fantasi yang kita ciptakan

Kenyataan yang kita hadapi

Entah seperti apa ujungnya, aku harap kita bahagia selamanya bersama…

ILU

Bisikan dari ketidakpedulian.

Ketika harapan itu seolah hilang, pecahan-pecahan memori indah itu perlahan ikut tersapu, terbawa bersama angin dan rumput yang memanggil. Tinggal lah suara, hanya suara yang mencekik mengundang tangis. Pernahkah hati ini mengiba? Adakah hati ini tak kan lekang oleh apapun yang menerjangnya? Dan ombak-ombak laut ditepi pantai seolah menantang gunung, yang sombong, tinggi menjulang dan tak terjamah dataran rendah… Disinilah aku menikmati riuh rendah konflik yang samar mata, aku ada tapi tak nyata.

H

Lama aku tak melihat laut, aku rindu desiran halus angin pantai

Suara ombak nan lantang dan sapuan pasir terbawa air laut

Lama aku tak bersua mentari, aku lupa rasanya menikmati langit kemerahan

Menantinya naik atau hilang berganti kelam dengan rembulan

Lama aku tak bertemu kamu, rindu ini tak lagi hanya sekedar kata

Tak hanya sebatas rasa, tapi lebih dari itu, seperti menyeruak mengangkasa

Mengenang kembali jalur pantai yang kita susuri

Menghujamkan tapak pada jejak jejak di pasir

Berteriak lantang menantang laut, kita duduk berdua dipinggir ombak yang menghempas, lalu tertawa bahagia

Mengenang kembali senja senja penghantar malam yang sering kita lalui berdua

Mengalun mengikuti kisah kita, saksi rangkulan tangan kita tak hanya dongeng belaka, dan malam berlalu dengan khidmat

Mungkin aku merindukan sebuah kenangan, atau merindukan suatu masa yang pernah aku lalui

Tapi jauh dari itu aku lebih merindukanmu untuk pulang bersamaku, dan menikmati lebih banyak senja dan pantai untuk kita lewati…

theanimalblog:

Buttermilk the baby dwarf goat plays with friends 

theanimalblog:


Fish are friends (by scott masterton)

theanimalblog:

Fish are friends (by scott masterton)

Aku dan kamu adalah dua makhluk yang berbeda, berasa dari dua rahim yang berbeda dan dibuahi oleh sperma yang berbeda, tapi sadarkah kamu sebenarnya kita diciptakan hampir sama persis? 

Kamu lebih suka berbicara tentang gunung dan seluruh puncak yang telah kamu daki, sementara aku selalu terlena obrolanku sendiri tentang laut dan isinya, kita sama-sama menyukai alam bukan? 

Ingat ketika kamu tidak suka aku yang tak mendengar saat kamu bicara denganku, dan aku yang tidak suka omongannya disela, kita sama-sama tidak ingin diacuhkan satu sama lain…

Atau ketika kamu tidak suka aku pergi dengan beberapa temanku, sedang aku berfikir apa salahnya aku bergaul dengan mereka? kita sama-sama egois tentang pendapat masing-masing…

Dan ketika kamu memaksaku mengucap janji yang aku tak ingin mengucapkannya, kita sama-sama keras kepala bersikukuh dengan emosi masing-masing…

Lalu tentang aku yang selalu menjawab tidak ada apa-apa saat nada bicara dan intonasiku berubah padamu, kemudian kamu yang terus terusan mengobral kata-kata mesra dan janji-janji manis, mungkin kita sama-sama masih belum yakin satu sama lainnya…

Waktu itu memang sangat berharga bagi siapa saja, termasuk aku dan kamu, kejarlah apa yang menjadi impianmu selama ini dan aku akan mengejar cita-citaku juga, bukankah kita sama-sama orang yang punya tujuan hidup kan?

Kecewa memang, mengingat waktu-waktu yang habis terbuang bersama kopi dan obrolan tentang mimpi-mimpi kita, semua malam-malam dengan hamparan bintang berselimut awan hitam kelam yang kita lalui berdua, dan semilir angin sore yang membawa terbang layangan kita…

Jika kenangan menyenangkan itu hanya akan habis tertelan oleh waktu, dan aku tak dapat meminta untuk mengulang waktu itu kembali, aku cuma bisa menahan diri dalam tangisku yang paling dalam karena bimbang dan dilema, aku tak bisa berharap apa-apa padamu dan aku tak ingin lagi mendengar semua kata manismu, hatiku tak ingin kehilanganmu tapi egoku terus terusan mencaci makiku dan selalu membuatku marah dan merasa bodoh…

Ternyata kita sama-sama masih mempelajari satu sama lain dan masih butuh waktu untuk memikirkan diri sendiri, benar bukan?

missing you…

Hari ini aku pergi ke Jatinangor naik motor sendirian, dengan langit yang mendung dan udara yang dingin ditambah basah kuyub diguyur hujan saat perjalanan pulang. Taukah kamu apa yang aku pikirkan? Harusnya aku tidak sendiri, harusnya aku ditemani, harusnya kamu ada disini…

Egois memang kedengarannya begitu, tapi apa daya, aku terlalu rindu padamu. Lama lama aku tak juga bisa bertahan sendiri tanpamu, lama lama aku merasa kamu lebih dari apa yang aku rindukan. 

Dari tadi aku terus terpikirkan kamu, coba kalau kamu ada disini, mungkin aku bisa memintamu singgah sebentar di kedai indra atau dijatos sekadar makan siang bersama. Atau meminta pendapatmu tentang baju yang aku beli di gede bage setelah sekian lama aku tak kesana, lalu aku bisa memelukmu ketika aku kedinginan diterpa angin dan kita bisa bermain hujan berdua saat hujan turun membasahi bumi ketika kita dijalan pulang. Aku yakin perjalanan hari ini akan lebih singkat dan lebih menyenangkan jika ada kamu disisiku menemaniku…

Mungkin aku bercita cita ingin kerja dipuskesmas didaerah Indonesia bagian timur, atau ingin bertraveling keliling Indonesia menikmati surga dunia. Tapi taukah kau apa yang paling aku inginkan? Terus berada disisimu menemanimu sampai kita tua, mungkin hanya sekadar duduk didepan televisi melihat film yang kita sukai sambil makan es krim favorit kita, atau bermain besama anjing anjing dan kucing kucing kita yang lucu lucu, atau sekadar mengajak anak anak kita jalan jalan. Yang penting kita selalu berdua, aku dan kamu, saling menemani.

Awalnya jarak bagiku hanyalah suatu kata yang biasa terdapat pada rumus matematika atau fisika, tapi kini jarak adalah sebuah tantangan bagiku yang harus aku taklukan. Mungkin dulu aku tak jago dibidang matematika dan tak mahir dibidang fisika, tapi aku ingin menjadi master dalam menyelesaikan kasus “jarak” ini.

Kamu adalah tempat pulangku dan garis finis yang aku cari itu ada tepat dibawah kakimu. Malam ini aku ditemani anak anak kucing kita, sedang sendu diterpa rindu. Apa kamu juga merasakan hal yang sama denganku?

Angka dan rasa…

Akhir-akhir ini malam kian dingin, si hitam legam Maku meringkuk bersama pejantan lainnya, Kudo, Pluto dan Goldy disebelah lemari biru dongker jauh dari kandangnya. Aku ikut-ikutan berbaring didepan televisi sembari menelepon kekasih yang jauh diujung Sumatera, mengumbar kata-kata mesra dan janji janji manis untuk masa depan. Kucing-kucing ini tak mau beranjak dari peraduannya, semuanya kesayanganku, semuanya…

Si gembrot Maku akhir-akhir ini semakin berulah ketika dimandikan, dingin mungkin terkena air, atau jengah mendengar suara pengering rambut yang ku gunakan untuk mengeringkan bulunya. Trio si kecil kini beranjak remaja, sejak dipisah dari 2 saudari mereka, pindah tangan orang tua asuh, mereka semakin meraja lela merasa wilayah kekuasaan mereka bertambah luas. 

Gelas pajanganku pecah tangkainya, kaca jam wekerku pecah pula, beberapa perkakasku tak sedikit yang mengalami kerusakan parah. Tapi biar begitu, rasa sayang ini tak pula kurang, tak pula rusak dan malah semakin bertambah. Berat hati meninggalkan mereka terlalu lama sementara aku harus klinik. Atau ketika harus melepas Brisa dan Bianca, duo betina cantik saudari sipejantan pejantan nakal ini, ada rasa kosong dan sedih melihat kandang yang kini penghuninya kurang satu persatu. 

Bahkan aku tak rela mereka dipersalahkan atas ketidak-selesaiannya skripsiku, memicu kata-kata runcing berbumbu emosi dari tiap kata yang ku lontarkan ke penghuni diujung telepon ini. Tapi taukah kau wahai tuan diujung telepon, dengkuran mereka yang menghiburku sementara kau sibuk menilaiku.

Aku tak pernah menilaimu, cinta itu tak pernah dapat dinilai. Apa yang kasat mata ini tak pernah dapat kau hitung dan kau kalkulasikan seperti data-data yang selama ini bisa kau olah dan kau manipulasi. Aku ini calon dokter gigi, aku tak pandai berhitung dan bermain dengan angka, aku hanya bisa merasa-rasa dan mengira-ngira, sampai segoyang mana gigi ini aku bein agar bisa aku cabut menggunakan tang, sedalam apa aku bor gigi ini agar pasien tidak ngilu dan kavitas tidak perforasi.

Aku hanya merasa sayang, nilailah aku sepuasmu, berilah aku angka sesuai penilaianmu. Sementara kau sibuk dengan semua penilaianmu, aku disini berusaha menerima kau apa adanya dan berusaha mengantisipasinya, dan berusaha menerima  kenyataan bahwa janji manismu ternyata hanya berlaku dengan syarat dan ketentuan tertentu, yaitu nilai…

Pertanyaan terakhir, berapakah nilaimu untukku?

Apa yang mimpi mimpikan?

Malam malam kembali datang dengan kelam

Sehabis mentari diufuk barat memisah diri dengan laut

Dan bulan dan bintang mulai bermunculan

Dimasa mana aku yang tak yakin?

Disemua untaian kalimatmu yang membuai

Diwaktu mana aku terhenti menjawab tanya?

Diseluruh kata kata cintamu yang pernah terlontar

Apa yang pernah angin bisikan padamu tentang aku?

Apa yang pernah laut derukan padamu tentang rasaku?

Ditepi jalan berlampu redup ini aku mengenangmu

Dalam bayangmu yang kubawa selau bersamaku

Dalam lagu yang selalu kau nyanyikan untukku

Dan semua waktu yang kau sisakan untukku

Aku hanya ingin kau satu,

Tak perlu lagi mimpi mimpi tentang bau rumput di surya kencana

Tak perlu lagi semua godaan cadas terjal puncak mahameru

Atau salju di jaya wijaya

Kau gunung everest-ku

Puncak tertinggi dalam tahtaku

Apa hal yang terindah yang ada dalam khayalanmu?

Hal terakhir yang aku inginkan adalah ada didalamnya…