"Bulan yang bulat malam kemarin, menjadi tau aku sedang meringkuk digelapnya tanpa dirimu. Aku hanya kelelahan, bertanya-tanya… Lalu aku mengisi gelas yang setengah penuh menjadi melimpah, dan lupa… Sayang, lihat aku disini membisu. Cepatlah kesini, aku ingin bertumpu dikakimu…"

— 10 oktober 2014

Bejana yang tak kunjung kosong

Ada rasa yang mungkin akan selalu tergantung,
Disana,
Didalam hati,
Selalu akan indah,
Tapi selalu dihiasi air mata, entahlah…
Umpama sedih tak mungkin indah begitu,
Umpama bahagia kenapa harus air mata,
Emosi dan amarah,
Merah…
Aku mencintaimu,
Mungkin benar hingga kini,
Lalu tertumpuk oleh perasaan yang lain, kepada yang lain,
Egomu egoku, teriakmu teriakku…
Aku tak bisa memilih karena kamu memang bukan salah satu pilihanku juga,
Jangan salahkan aku dan menangis terluka sendiri,
Salahkan dirimu sendiri, yang mematri namaku didalam cintamu, lalu mengatakannya padaku,
Aku tak meminta,
Aku dan kamu adalah urusan yang simpel,
Aku mencintaimu,
Karena itulah menjadi rumit…


9 oktober 2014, ditengah malam sehari setelah gerhana bulan

"Ingin rasanya membuka mata yang buta dan mengunci mulut yang menganga, membangunkan raksasa buruk rupa dari tidurnya dan bertarung bersama naga. Tapi untuk apa? Benar yang mana yang akan dibela jika bukan diri sendiri. Toh benar itu banyak definisinya, keadilan banyak yang timpang. Rasa tak bisa diperbincangkan gamblang, hati tak bisa sembunyi terus. Seutas benang bisa memutuskan kepala manusia, tapi mungkin aku butuh satu peluru untuk aku arahkan ke mulutku sendiri dan menarik pelatuknya. Mati ditangan sendiri lebih bisa aku terima daripada mati diinjak-injak prajurit tak berkelamin, memalukan…"

— 17 september 2014 untuk tahun lalu dan tahun-tahun yang berlalu…

"Hai Peganglah tanganku Terbanglah bersamaku Menyusuri kembali ruang dan waktu Bukan untuk melihat kenangan, ‘aku’ Kembali ketempatmu pertama ada, dan berada Untuk mengingat janjimu, akan mati muda atau mati sia-sia Agar kamu tau dari mana suara hati itu berasal Agar kamu paham makna yakin didalam kalbumu itu apa Dan berhentilah bertanya-tanya tidak percaya Tapi jangan pula berjalan hanya melihat kebawah saja Lalu keluar, melepas jempol dan janji, dan menangis…"

— 16 september 2014

Balada moccachino

Dengan mata tertutup suara itu berhamburan dari asalnya.
Gemeretak rahang yang kian menguat tak tertahan urat sedikitpun menganga dalam terangnya ruangan.
Dan semua berputar berdansa dalam angan-angan, membuatnya menjadi seolah-olah tidak nyata.
Aku kebingungan, temanku bilang berpeganglah, tapi aku hanya bisa terdiam diredam dan dideram dalam benakku sendiri.
Tanda tanya itu kian lama kian semangat mengikuti menagih dimintai jawaban, namun mulutku terjahit dalam kebisuan, gemerintih, penasaran…
Bimbang, aku hanya ketakutan sendiri, antara apa yang aku harapkan dan apa yg akan terlontar, yang sama sekali tidak bisa diterka.
Berbilang-bilang sayang dan cinta, ada sedikit terbersit keyakinan yang masih dipertanyakan…
Oleh siapa, untuk siapa, dan kenapa…
Lampu-lampu jalan malam ini temani aku yang akan menghadapi sebuah drama, lalu biarkan mata ini nanar dan kosong hampa….

15 september 2014
Tidak dibawah tekanan apapun

Memorandum

Arlojiku berdetak lebih cepat dari biasanya, seiring gerak gerik bibir milik seorang wanita yang terpulas gincu merah padam. Sepadam hatinya untuk seseorang, yang telah lama berduri disetiap kelam malamnya. Gemerintang kemudian berubah posisi, mengekor kearah mata tajam si wanita menatap nanar jauh ke galaksi antah berantah. Boleh jadi dia sedang minta tolong, atau mungkin dia tersesat dan ingin kembali. Malam ini lebih panjang dari biasanya, dan dia tau itu dari bisik bisik di hatinya yang telah lama dia simpan. Tidakkah lelah? Menyia-nyiakan matahari yang berguling menghibur? Berbicaralah…


6 september 2014

Perkara kecap dan kopi hitam

Teori teori yang mengambang, yang mungkin tak layak lagi diperbincangkan, kumpulkanlah…
Lalu buatlah menjadi sebuah alasan, alasan kenapa harus ada dan tidak ada, dalam asa dan rasa.
Hati yang telah terbiasa mungkin akan mengabaikan gunjingan, tapi otak yang telah terasah akan lebih cermat meniti celah.
Bergegap gempitalah ketika fakta mengacu pada logika, selebrasikanlah dalam diam, persepsi yang selama ini dipertaruhkan di meja judi menjadi tau siapa tuannya.
Tapi jangan pula melengkungi bibir ketika tau anjing itu tak tau jalan pulang, seperti kacang yang lupa pada kulitnya, bukan maksud hidup seperti itu, hanya saja terkadang nilai ujian kita tak pantas untuk naik kelas.
Bercumbulah dengan waktu, agar tau nikmatnya tersiksa dalam ketidakpastian, menari bersama harapan, dan bernyanyi dengan kenyataan.
Lain kali, jangan bumbui hidupmu hanya dengan kecap melulu, dan ingatlah tak semua kopi hitam itu tak enak untuk diseruput :)

5 september 2014

"Keringat yang mengalir dipagi hari membuatku banyak berfikir, betapa masa lalu itu tak ada habisnya. Jadikanlah sepasang mata kasih itu milikku, biar kudekap dalam-dalam di ringkihku. Manis, aku ingin kau. Dari atas hingga bawah, cuma kamu. Tak sampai semua kata cinta ini aku lontarkan bukan hanya bualan belaka, tapi nyata dan itu yang membuatmu meraja di hatiku, yang membuat kaki ku tak goyah menjadi panglima perang. Sederhana, aku cinta kau, dan aku jatuh dalam singgasanamu."

— 2 september 2014

"Aku tak mau kau tiada di pendar mataku
Aku tak mau kau bias di jiwaku
Aku tak mau kau semu menjadi belahan hatiku
Yang aku mau cuma kamu, utuh, satu, ada…"

— 30 agustus 2014

"Jika memang keyakinan yang memilihkan aku untukmu, bawalah aku ke keyakinanmu. Terkadang manusia butuh alasan yang lebih mantap untuk menapak kaki ke jembatan kayu yang rapuh, dan manusia butuh lebih dari sekadar kepercayaan untuk berani menantang masa depan. Waktu, benar lagi, waktu yang tak bisa berputar kembali, yang tak bisa dipercepat dan yang tak bisa dihentikan. Biarkanlah waktu ini tetap menari disampingku, hingga ia bisa membawaku berjalan disisimu kelak. Aku janji, untuk membuat janji seumur hidup denganmu, dan aku tak akan main-main lagi…"

Titik balik

Ada masanya kita berhenti sejenak
Lalu melihat kebelakang, termenung dan kembali berjalan
Ada juga yang tetap terdiam lama
Atau ada juga yang tak rela kemudian malah kembali…

Ada orang-orang yang beruntung
Ada juga orang-orang yang berusaha
Kemudian ada juga orang-orang yang gagal
Namun ada juga orang-orang yang tak bisa apa-apa

Memilih atau dipilih
Memutuskan atau diputuskan
Meninggalkan atau ditinggalkan
Menjadi dewasa atau tetap muda

Masa lalu akan tetap menjadi masa lalu
Kenangannya dinikmati
Sisa-sisanya tidak ada yang sia-sia
Lalu memilihlah, untuk tetap melangkah
Atau tetap tinggal dan menunggu waktu yang memaksa untuk beranjak…

"Meninggalkan apa yang diinginkan itu tidaklah mudah, apalagi berkata sudah pada masa lalu yang tak bosan menggoda-goda. Tapi apa hati tak ingin sekuat itu ketika berkata iya pada seseorang yang meminta atas nama Tuhanmu? Siap menjadi pribadi yang lebih baik atas nama agama? Semoga aku cukup tangguh untuk memilih masa depan kelak, amin…"

rinisetia:

Ditulis oleh : Dani Ferdian
Ini bukan hanya tentang aku, begitupun bukan hanya tentang dirimu. Ini tentang kita. Ya, setiap kita yang sedang bertumbuh, menuju penyempurnaan agamanya. Satu per satu rekan-rekan, kerabat, senior, adik kelas, kenalan menyampaikan kabar gembiranya silih berganti dan…
"Three kind of friend ship, season, reason and life time"

— Bli Komang (Amed -Bali, 25 juni 2014)

Bandung -Banyuwangi, perjalanan kereta 24 jam

Ada yang bilang, bertemanlah dengan ketakutanmu, terbiasa dengan ketakutanmu akan membuat kamu semakin berani menghadapinya.
But i am not fear, i am sad…
Terlalu sedih untuk mengingat, terlalu sedih untuk menangis, terlalu sedih untuk mengenang.
Apa harus juga berteman dengan kesedihan? Apa air mata akan membuatnya terbiasa? Apa jika hati tidak ingin cepat mengering, boleh terus melupakan seolah-olah tidak pernah terjadi?

In memoriam…