IniArindaItu
Hari ini aku pergi ke Jatinangor naik motor sendirian, dengan langit yang mendung dan udara yang dingin ditambah basah kuyub diguyur hujan saat perjalanan pulang. Taukah kamu apa yang aku pikirkan? Harusnya aku tidak sendiri, harusnya aku ditemani, harusnya kamu ada disini…
Egois memang kedengarannya begitu, tapi apa daya, aku terlalu rindu padamu. Lama lama aku tak juga bisa bertahan sendiri tanpamu, lama lama aku merasa kamu lebih dari apa yang aku rindukan.
Dari tadi aku terus terpikirkan kamu, coba kalau kamu ada disini, mungkin aku bisa memintamu singgah sebentar di kedai indra atau dijatos sekadar makan siang bersama. Atau meminta pendapatmu tentang baju yang aku beli di gede bage setelah sekian lama aku tak kesana, lalu aku bisa memelukmu ketika aku kedinginan diterpa angin dan kita bisa bermain hujan berdua saat hujan turun membasahi bumi ketika kita dijalan pulang. Aku yakin perjalanan hari ini akan lebih singkat dan lebih menyenangkan jika ada kamu disisiku menemaniku…
Mungkin aku bercita cita ingin kerja dipuskesmas didaerah Indonesia bagian timur, atau ingin bertraveling keliling Indonesia menikmati surga dunia. Tapi taukah kau apa yang paling aku inginkan? Terus berada disisimu menemanimu sampai kita tua, mungkin hanya sekadar duduk didepan televisi melihat film yang kita sukai sambil makan es krim favorit kita, atau bermain besama anjing anjing dan kucing kucing kita yang lucu lucu, atau sekadar mengajak anak anak kita jalan jalan. Yang penting kita selalu berdua, aku dan kamu, saling menemani.
Awalnya jarak bagiku hanyalah suatu kata yang biasa terdapat pada rumus matematika atau fisika, tapi kini jarak adalah sebuah tantangan bagiku yang harus aku taklukan. Mungkin dulu aku tak jago dibidang matematika dan tak mahir dibidang fisika, tapi aku ingin menjadi master dalam menyelesaikan kasus “jarak” ini.
Kamu adalah tempat pulangku dan garis finis yang aku cari itu ada tepat dibawah kakimu. Malam ini aku ditemani anak anak kucing kita, sedang sendu diterpa rindu. Apa kamu juga merasakan hal yang sama denganku?
Akhir-akhir ini malam kian dingin, si hitam legam Maku meringkuk bersama pejantan lainnya, Kudo, Pluto dan Goldy disebelah lemari biru dongker jauh dari kandangnya. Aku ikut-ikutan berbaring didepan televisi sembari menelepon kekasih yang jauh diujung Sumatera, mengumbar kata-kata mesra dan janji janji manis untuk masa depan. Kucing-kucing ini tak mau beranjak dari peraduannya, semuanya kesayanganku, semuanya…
Si gembrot Maku akhir-akhir ini semakin berulah ketika dimandikan, dingin mungkin terkena air, atau jengah mendengar suara pengering rambut yang ku gunakan untuk mengeringkan bulunya. Trio si kecil kini beranjak remaja, sejak dipisah dari 2 saudari mereka, pindah tangan orang tua asuh, mereka semakin meraja lela merasa wilayah kekuasaan mereka bertambah luas.
Gelas pajanganku pecah tangkainya, kaca jam wekerku pecah pula, beberapa perkakasku tak sedikit yang mengalami kerusakan parah. Tapi biar begitu, rasa sayang ini tak pula kurang, tak pula rusak dan malah semakin bertambah. Berat hati meninggalkan mereka terlalu lama sementara aku harus klinik. Atau ketika harus melepas Brisa dan Bianca, duo betina cantik saudari sipejantan pejantan nakal ini, ada rasa kosong dan sedih melihat kandang yang kini penghuninya kurang satu persatu.
Bahkan aku tak rela mereka dipersalahkan atas ketidak-selesaiannya skripsiku, memicu kata-kata runcing berbumbu emosi dari tiap kata yang ku lontarkan ke penghuni diujung telepon ini. Tapi taukah kau wahai tuan diujung telepon, dengkuran mereka yang menghiburku sementara kau sibuk menilaiku.
Aku tak pernah menilaimu, cinta itu tak pernah dapat dinilai. Apa yang kasat mata ini tak pernah dapat kau hitung dan kau kalkulasikan seperti data-data yang selama ini bisa kau olah dan kau manipulasi. Aku ini calon dokter gigi, aku tak pandai berhitung dan bermain dengan angka, aku hanya bisa merasa-rasa dan mengira-ngira, sampai segoyang mana gigi ini aku bein agar bisa aku cabut menggunakan tang, sedalam apa aku bor gigi ini agar pasien tidak ngilu dan kavitas tidak perforasi.
Aku hanya merasa sayang, nilailah aku sepuasmu, berilah aku angka sesuai penilaianmu. Sementara kau sibuk dengan semua penilaianmu, aku disini berusaha menerima kau apa adanya dan berusaha mengantisipasinya, dan berusaha menerima kenyataan bahwa janji manismu ternyata hanya berlaku dengan syarat dan ketentuan tertentu, yaitu nilai…
Pertanyaan terakhir, berapakah nilaimu untukku?
Malam malam kembali datang dengan kelam
Sehabis mentari diufuk barat memisah diri dengan laut
Dan bulan dan bintang mulai bermunculan
Dimasa mana aku yang tak yakin?
Disemua untaian kalimatmu yang membuai
Diwaktu mana aku terhenti menjawab tanya?
Diseluruh kata kata cintamu yang pernah terlontar
Apa yang pernah angin bisikan padamu tentang aku?
Apa yang pernah laut derukan padamu tentang rasaku?
Ditepi jalan berlampu redup ini aku mengenangmu
Dalam bayangmu yang kubawa selau bersamaku
Dalam lagu yang selalu kau nyanyikan untukku
Dan semua waktu yang kau sisakan untukku
Aku hanya ingin kau satu,
Tak perlu lagi mimpi mimpi tentang bau rumput di surya kencana
Tak perlu lagi semua godaan cadas terjal puncak mahameru
Atau salju di jaya wijaya
Kau gunung everest-ku
Puncak tertinggi dalam tahtaku
Apa hal yang terindah yang ada dalam khayalanmu?
Hal terakhir yang aku inginkan adalah ada didalamnya…
Kamu, satu nama dan hanya ada satu didunia
Kamu, satu fakta tentang cinta yang nyata aku rasakan
Kamu, satu cerita kenangan tentang kita
Kamu, satu nafas yang berhembus dalam urai langkah hidupku
Kamu, satu suara yang selalu menggema dibalik telingaku
Kamu, satu jiwa pengiring jejak langkah kakiku
Kamu, satu raga yang jauh dariku, yang membawa setengah hatiku bersamamu,
yang selalu aku rindu, satu pesan untukmu…
Aku mencintaimu…

Ada satu hal unik didalam kamar saya, adalah hampir 50% barang barang saya berwarna biru. Padahal saya tidak punya spesifikasi warna favorit, dan tidak pula sengaja mendekor kamar saya dengan tema “Blue is everywhere”.
Ini hanya sebuah ketidaksengajaan, sebuah reflek baru dalam hidup saya, sama seperti bernapas, sama seperti bersin, semuanya reflek, termasuk memilih barang barang berwarna biru. Dan biru telah memenuhi hidup saya, seperti biru lautan yang memenuhi samudra, seperti biru langit yang memenuhi angkasa, dan seperti birunya semua isi kamar saya.
Biru itu… biru, hanya sebuah warna biru yang hingga kini saya sendiripun tak mengerti makna ketidaksadaran saya memilih biru sebagai warna pokok. Apa mungkin ada arti kenapa saya begitu tertarik dengan warna biru? Apa mungkin warna aura saya biru? Apa mungkin saya reingkarnasi lumba2 yang selalu mendamba samudra biru? Tak satu manusiapun tau, termasuk saya, dan berterimakasih saya pada Sang Pencipta yang membuat mata saya adem dengan warna biru…
Dua hari lalu mama datang berkunjung, sekadar ingin tau kabar anaknya ini dan berbelanja oleh-oleh untuk orang dirumah. Sekian lama tak bertemu sang bunda, tak banyak berubah darinya sejak terakhir bertemu kecuali rambutnya yang kian panjang. Tak sadar sebenarnya aku sangat merindukan beliau, sudah lebih 6 bulan aku tak pulang. Tak masalah sih tak pulang, tahun lalu pun juga seperti ini, setahun tak pulang hanya dibayar 2 mingu libur untuk menetap dirumah. Tapi entah kenapa, sepeninggalan mama yang kembali ke Padang siang tadi, rasa rindu yang amat sangat tiba-tiba datang menyesap sampai ke ubun-ubun ingin pulang. Berat hati melepas mama pergi sendiri ke Padang, tak sampai hati badan ini tak ikut… Aku merindukan rumahku, aku rindu keluargaku…
Apa kabar papa sekarang? Apa kabar adek-adekku sekarang? Dan apa kabar oma sekarang yang kebetulan sedang dirumah? Yang beberapa waktu lalu tak sempat bersua padahal oma kebetulan sedang berada di Bandung, kota yang sama tempat aku menginjakkan kaki, tapi sayang waktu mungkin tak mengizinkan kami bertemu, dan sekali lagi, aku merindukan keluargaku…
Ada kabar duka dari oma, adik perempuan opa meninggal dunia kemaren sore, kerabat yang sering aku kunjungi juga jika berada dikampung halaman mama, lama tak bersua bahkan ketika aku tak bisa melihat beliau lagipun tak mampu tangan ini mengucap pisah. Awal januari lalu, seorang adik mamaku, Tante devi, datang ke bandung, sengaja mengunjungiku. Alhamdulillah bisa bertemu, namun sayang, saat kembali ke Damasraya mobilnya mengalami kecelakaan, dan akulah orang terakhir yang diberitau mengenai kabar kejadiannya. Dan aku pula yang tak bisa melihat dan mengunjungi adik bungsu mamaku itu, siapa yang tak sedih?
Dua hari bagiku tak cukup untuk berbagi cerita 6 bulan tak bertemu, dua hari tak cukup bagiku melepas rindu, dua hari tak cukup bagiku mengenang waktu yang aku habiskan sendirian disini jauh dari orangtuaku…
Tak cukup…
Dan air mata ini tak terasa merembas menghangatkan sedikitnya rasa rindu yang mungkin telah lama aku tahan, tak keluar karena terlaihkan hal-hal lain dan sekalinya keluar langsung membuncah tanpa ampun menyerangku bertubi-tubi. Membuatku menangis berkali-kali, bahkan ketika aku teringat sedikit mengenai keluargaku disana.
Keluh kesah itu telah lama tak ku keluarkan, penyesalan itu telah lama pula ku tinggalkan jauh-jauh, yang tertinggal kini hanya mimpi-mimpi yang berusaha aku gantungkan setinggi-tinggi tanganku bisa mencapainya. Dan apapun yang aku gantungkan disana, semata-mata untuk diriku sendiri dan demi keluargaku yang jauh disana.
Pray for me, pray for semua anak rantau yang telah lama tak pulang kekampung halamannya…
That’s why i stop!
Boleh aku bercerita,
Tentang malam-malam yang pernah aku lalui
Ketika tanganmu mendekap dan hanyut dalam mimpi bersamaku
Lalu tentang bulan yang selalu saja muncul ditempat yang sama
Sama seperti rasa yang muncul dalam hati yang sama
Aku dan kamu masuk dalam dimensi kesekian
Desiran angin malam ini untuk kita sayang
Merayakan masa-masa yang hilang dalam pelukan waktu
Menggantikan tiap detik yang tak pernah cukup bagi kita
Bersama awan dan langit yang selalu mesra
Aku selalu menitip doa, aku ingin seperti mereka
Yang selalu indah jika saling merangkul
Kemarilah, tertawalah bersamaku
Dan menarilah bersamaku
Tak pernah ada kata cukup untuk kita berdua
Bernyanyilah bak lokananta
Bisikanlah semua seruan seruan cinta
Dan katakanlah padaku
Aura mistik yang berpendar disekitar kita
Adalah saksi aku dan kamu pernah satu
Dalam rasa, asa dan kata…
Apa yang tak pernah kembali, adalah waktu yang telah lalu
Apa yang tak kuminta kembali, adalah cinta yang pernah termakan waktu bersamamu…