"Ingin rasanya membuka mata yang buta dan mengunci mulut yang menganga, membangunkan raksasa buruk rupa dari tidurnya dan bertarung bersama naga. Tapi untuk apa? Benar yang mana yang akan dibela jika bukan diri sendiri. Toh benar itu banyak definisinya, keadilan banyak yang timpang. Rasa tak bisa diperbincangkan gamblang, hati tak bisa sembunyi terus. Seutas benang bisa memutuskan kepala manusia, tapi mungkin aku butuh satu peluru untuk aku arahkan ke mulutku sendiri dan menarik pelatuknya. Mati ditangan sendiri lebih bisa aku terima daripada mati diinjak-injak prajurit tak berkelamin, memalukan…"

— 17 september 2014 untuk tahun lalu dan tahun-tahun yang berlalu…

"Hai Peganglah tanganku Terbanglah bersamaku Menyusuri kembali ruang dan waktu Bukan untuk melihat kenangan, ‘aku’ Kembali ketempatmu pertama ada, dan berada Untuk mengingat janjimu, akan mati muda atau mati sia-sia Agar kamu tau dari mana suara hati itu berasal Agar kamu paham makna yakin didalam kalbumu itu apa Dan berhentilah bertanya-tanya tidak percaya Tapi jangan pula berjalan hanya melihat kebawah saja Lalu keluar, melepas jempol dan janji, dan menangis…"

— 16 september 2014

Balada moccachino

Dengan mata tertutup suara itu berhamburan dari asalnya.
Gemeretak rahang yang kian menguat tak tertahan urat sedikitpun menganga dalam terangnya ruangan.
Dan semua berputar berdansa dalam angan-angan, membuatnya menjadi seolah-olah tidak nyata.
Aku kebingungan, temanku bilang berpeganglah, tapi aku hanya bisa terdiam diredam dan dideram dalam benakku sendiri.
Tanda tanya itu kian lama kian semangat mengikuti menagih dimintai jawaban, namun mulutku terjahit dalam kebisuan, gemerintih, penasaran…
Bimbang, aku hanya ketakutan sendiri, antara apa yang aku harapkan dan apa yg akan terlontar, yang sama sekali tidak bisa diterka.
Berbilang-bilang sayang dan cinta, ada sedikit terbersit keyakinan yang masih dipertanyakan…
Oleh siapa, untuk siapa, dan kenapa…
Lampu-lampu jalan malam ini temani aku yang akan menghadapi sebuah drama, lalu biarkan mata ini nanar dan kosong hampa….

15 september 2014
Tidak dibawah tekanan apapun

Memorandum

Arlojiku berdetak lebih cepat dari biasanya, seiring gerak gerik bibir milik seorang wanita yang terpulas gincu merah padam. Sepadam hatinya untuk seseorang, yang telah lama berduri disetiap kelam malamnya. Gemerintang kemudian berubah posisi, mengekor kearah mata tajam si wanita menatap nanar jauh ke galaksi antah berantah. Boleh jadi dia sedang minta tolong, atau mungkin dia tersesat dan ingin kembali. Malam ini lebih panjang dari biasanya, dan dia tau itu dari bisik bisik di hatinya yang telah lama dia simpan. Tidakkah lelah? Menyia-nyiakan matahari yang berguling menghibur? Berbicaralah…


6 september 2014

Perkara kecap dan kopi hitam

Teori teori yang mengambang, yang mungkin tak layak lagi diperbincangkan, kumpulkanlah…
Lalu buatlah menjadi sebuah alasan, alasan kenapa harus ada dan tidak ada, dalam asa dan rasa.
Hati yang telah terbiasa mungkin akan mengabaikan gunjingan, tapi otak yang telah terasah akan lebih cermat meniti celah.
Bergegap gempitalah ketika fakta mengacu pada logika, selebrasikanlah dalam diam, persepsi yang selama ini dipertaruhkan di meja judi menjadi tau siapa tuannya.
Tapi jangan pula melengkungi bibir ketika tau anjing itu tak tau jalan pulang, seperti kacang yang lupa pada kulitnya, bukan maksud hidup seperti itu, hanya saja terkadang nilai ujian kita tak pantas untuk naik kelas.
Bercumbulah dengan waktu, agar tau nikmatnya tersiksa dalam ketidakpastian, menari bersama harapan, dan bernyanyi dengan kenyataan.
Lain kali, jangan bumbui hidupmu hanya dengan kecap melulu, dan ingatlah tak semua kopi hitam itu tak enak untuk diseruput :)

5 september 2014

"Keringat yang mengalir dipagi hari membuatku banyak berfikir, betapa masa lalu itu tak ada habisnya. Jadikanlah sepasang mata kasih itu milikku, biar kudekap dalam-dalam di ringkihku. Manis, aku ingin kau. Dari atas hingga bawah, cuma kamu. Tak sampai semua kata cinta ini aku lontarkan bukan hanya bualan belaka, tapi nyata dan itu yang membuatmu meraja di hatiku, yang membuat kaki ku tak goyah menjadi panglima perang. Sederhana, aku cinta kau, dan aku jatuh dalam singgasanamu."

— 2 september 2014

"Aku tak mau kau tiada di pendar mataku
Aku tak mau kau bias di jiwaku
Aku tak mau kau semu menjadi belahan hatiku
Yang aku mau cuma kamu, utuh, satu, ada…"

— 30 agustus 2014

"Jika memang keyakinan yang memilihkan aku untukmu, bawalah aku ke keyakinanmu. Terkadang manusia butuh alasan yang lebih mantap untuk menapak kaki ke jembatan kayu yang rapuh, dan manusia butuh lebih dari sekadar kepercayaan untuk berani menantang masa depan. Waktu, benar lagi, waktu yang tak bisa berputar kembali, yang tak bisa dipercepat dan yang tak bisa dihentikan. Biarkanlah waktu ini tetap menari disampingku, hingga ia bisa membawaku berjalan disisimu kelak. Aku janji, untuk membuat janji seumur hidup denganmu, dan aku tak akan main-main lagi…"

Titik balik

Ada masanya kita berhenti sejenak
Lalu melihat kebelakang, termenung dan kembali berjalan
Ada juga yang tetap terdiam lama
Atau ada juga yang tak rela kemudian malah kembali…

Ada orang-orang yang beruntung
Ada juga orang-orang yang berusaha
Kemudian ada juga orang-orang yang gagal
Namun ada juga orang-orang yang tak bisa apa-apa

Memilih atau dipilih
Memutuskan atau diputuskan
Meninggalkan atau ditinggalkan
Menjadi dewasa atau tetap muda

Masa lalu akan tetap menjadi masa lalu
Kenangannya dinikmati
Sisa-sisanya tidak ada yang sia-sia
Lalu memilihlah, untuk tetap melangkah
Atau tetap tinggal dan menunggu waktu yang memaksa untuk beranjak…

"Meninggalkan apa yang diinginkan itu tidaklah mudah, apalagi berkata sudah pada masa lalu yang tak bosan menggoda-goda. Tapi apa hati tak ingin sekuat itu ketika berkata iya pada seseorang yang meminta atas nama Tuhanmu? Siap menjadi pribadi yang lebih baik atas nama agama? Semoga aku cukup tangguh untuk memilih masa depan kelak, amin…"

rinisetia:

Ditulis oleh : Dani Ferdian
Ini bukan hanya tentang aku, begitupun bukan hanya tentang dirimu. Ini tentang kita. Ya, setiap kita yang sedang bertumbuh, menuju penyempurnaan agamanya. Satu per satu rekan-rekan, kerabat, senior, adik kelas, kenalan menyampaikan kabar gembiranya silih berganti dan…
"Three kind of friend ship, season, reason and life time"

— Bli Komang (Amed -Bali, 25 juni 2014)

Bandung -Banyuwangi, perjalanan kereta 24 jam

Ada yang bilang, bertemanlah dengan ketakutanmu, terbiasa dengan ketakutanmu akan membuat kamu semakin berani menghadapinya.
But i am not fear, i am sad…
Terlalu sedih untuk mengingat, terlalu sedih untuk menangis, terlalu sedih untuk mengenang.
Apa harus juga berteman dengan kesedihan? Apa air mata akan membuatnya terbiasa? Apa jika hati tidak ingin cepat mengering, boleh terus melupakan seolah-olah tidak pernah terjadi?

In memoriam…

Yang tiada kembalilah dalam ketiadaan,

Biarkan sekali lagi menggenggam tangannya, bersimpuh meminta maaf untuk semua kesalahan anak durhaka ini kepada ibunya. Jika waktu hanya berjalan lurus kedepan, biarkanlah doa ini saja yang memohon ampun dan kesejahterahan baginya. Bukannya tidak peduli dan mengabaikan apalagi melupakan, hanya saja ternyata hati ini tak cukup kuat jika harus melihat ke belakang lagi, dan tak sanggup pula membasahi dan menabur bunga diatas pusaranya. Demi detik-detik yang semakin cepat berlalu, hanya doa, ya… hanya doa, satu-satunya usaha dan hadiah baginya yang sudah tiada. 

Untuk semua ikan yang sudah mau menari denganku…

Minggu lalu, disuatu senja merah yang sejuk, aku sedang berdiri dipelabuhan besar dengan sejuta lalu lalang hiruk pikuknya. bis dengan asapnya, kapal dengan baling-baling besarnya dan manusia dengan kaki-kakinya yang lincah. Aku melihat keatas senja jingga itu, menikmati liuk layangan yang menari ditiup angin… Alangkah enaknya bisa terbang diangkasa begitu, bisa menyapa langit dan bersapa dengan kawanan burung yang tengah bersiap akan pulang. Layangan yang akan terus disana hingga pemiliknya ingin menurunkannya, yang tak bisa terbang bebas karena tali yang mengikat ke bambunya. Layangan yang hanya bisa pasrah terombang ambil lalu tersangkut dimana saja saat talinya putus, atau menjadi rebutan anak kecil yang menginginkannya…

Baru beberapa jam yang lalu aku masih menikmati asinnya laut, teriknya matahari dan indahnya sapaan para ikan cantik penghuni laut Jawa. Dan sekarang aku telah masuk lagi dalam dunia keramaian, dunia yang telah biasa. Pernah seorang teman membahas mengenai mimpi, impian… aku hanya tak pernah mengungkapan apa mimpi yang menjadi impianku. Bukan pesimis, bukan juga karena sibuk berfikir apa mimpi yang baik dan benar. Hal ini merupakan pertanyaan simpel dengan jawaban yang simpel juga, impianku adalah bahagia…

Hanya aja terkadang aku masih bingung mendefinisikan mimpi, impian dan bahagia. Tak semua orang berfikir mimpi itu adalah motivasi, sebagian lain menganggap itu adalah angan-angan, cita-cita masa kecil, ataupun hanya sekadar bunga tidur. Dan impian, kadang seringkali lebih mendekati obsesi, life goal, atau sekadar kata-kata penambah bumbu cerita saat berkumpul dengan teman-teman. Lalu bahagia, mulai dari hal kecil yang sederhana hingga suatu pencapaian yang luar biasa, bisa membuat seorang manusia bahagia.

Seperti aku, hanya melewati lautan dan menyentuh airnya saja sudah membuat aku bahagia, hanya dengan terpapar sinar matahari saja sudah membuat aku bahagia, hanya dengan memeluk kedua kucing kesayanganku saja sudah membuat aku bahagia. Ingat pertama kalinya aku menantang laut, apa yang tersisa hanya nekat, ketakutan sudah lama hilang dan keberanian telah membara menjadi kekuatan yang mendorong untuk berkata iya pada semua tantangan. Katakan saja iya jika mampu, kenapa harus menolak jika tidak ada alasan untuk berkata tidak?

Apa yang aku alami beberapa waktu belakang sedikit membuatku bingung,pencapaian tujuan, keinginan dan impian. Apa sebenarnya perbedaan ketiga kata-kata tadi? Aku melihatnya sama dalam bentuk dasarnya, namun berbeda dalam definisinya. Duniawi, begitu mungkin untuk definisi tujuanku, kembali ke fakta dan realita. Apa yang harus aku capai dalam hidupku? Karir? Keluarga? Materi? Pandangan manusia lain? Harga diri? Sekali lagi, itu realita…

Mari sedikit membahas mengenai realita yang sedang aku hadapi, aku yang menuntut diri sendiri agar dapat diandalkan, menjadi dokter gigi yang sukses dan dapat membina keluarga yang baik. Hal yang biasa memang, namun tamparan keras saat kematian ibu adalah hal mutlak, fakta, keyataan, yang memang benar-benar harus bisa aku terima.

Sedihnya bukan main sangat luar biasa begitu Tuhan memanggilnya secepat ini, itu pula yang lambat laun mengikis dinding benteng ego yang telah lama aku bangun dalam bentuk cita-cita, suatu keinginan. Inilah yang kini yang sedang bermetamorfosa menjadi senjata bagiku, aku tak tau apa akan menjadi cambuk atau malah jadi boomerang yang akan balik menyerangku. Keinginanku adalah bahagia, banyak cara mencapai bahagia, namun tak semua mulut manusia akan bungkam terhadap manusia lain. Aku tak ingin ada rasa kosong yang menyelip setelah tertawa, itu membungkam pikiranku, membuatnya berkecamuk mengenai salah dan benar.

Itulah kadang menjadi dewasa itu perlu, dapat membedakan antara hal-hal yang salah dan hal-hal yang benar, meskipun kedua hal tersebut seringkali hanya buatan manusia manusia yang tak ingin rugi dan dirugikan. Apa semua manusia ini memiliki isi kepala yang berbeda-beda? Kenapa? Apa yang sedang mereka pikirkan? Aku hanya penasaran… Dunia ini biasa bagi sebagian orang, hanya rutinitas. Dan aku ingin mengeluarkan sebelah kakiku dari dunia yang biasa ini, dan membiarkannya melangkah pergi mencari sendiri kebahagian yang memang aku inginkan. Sementara kakiku yang sebelah lagi akan mengikuti jejak orang-orang ini dalam rutinitasnya.

Impian, adalah semua yang tergambar jelas dalam benakku saat ini. Malam dengan seribu bintang, bulan yang terang dibalik rimbunnya nyiur dipinggir pantai dengan deburan ombaknya yang lembut, lalu aku yang berbaring diatas pasir kering sambil memegang sebotol minuman setelah menikmati langit jingga berubah kelam saat matahari pamit pergi. Itulah kenapa aku keranjingan mencari lautan dan pantai, bukan soal laut dan isinya, bukan soal pasir dan desiran anginnya. Tapi isi hati dan pikiranku saat itu, hanya ada satu kata yang dapat menggambarkannya dengan tepat, bahagia…

Apa yang menjadi tujuanku adalah bentuk keinginanku sendiri yang tercipta dari impian-impianku selama ini, pada dasarnya semuanya berarti sama, tapi definisi mereka berkesinambungan satu sama lain. 

Ada lagi yang lain, cinta,

Aku mencintai… Aku mencintai seorang laki-laki, aku mencintai setiap helai rambutnya seperti aku mencintai setiap butir pasir di pantai yang telah aku singgahi. Aku mencintai wangi tubuhnya seperti aku mencintai desiran angin lembut yang dibawa laut ke daratan. Aku mencintai setiap lekuk tubuhnya seperti aku mencintai ikan-ikan yang meliuk indah di balik karang. Aku mencintai setiap sentuhannya seperti aku mencintai cahaya matahari yang menerpa kulitku. Dan aku mencintai setiap senyumnya seperti aku mencintai malam cerah yang memamerkan bulan terang lengkap dengan bintangnya. Tulus, indah, tanpa rasa ingin memiliki, dan aku bahagia…

Bahagia itu simpel, meski banyak orang yang menentang setiap jalannya. Impian itu untuk dikejar, realita itu untuk dijalani, dan tujuan itu adalah benang layangan yang memegang erat saat layangan terbang jauh keatas menggapai langit. Tak ingin mempersalahkan, dan tak ingin selalu dibenarkan. Manusia itu tak ada yang sempurna…

Lalu aku? akan sibuk dengan impian-impianku selanjutnya, pergi mencari kesepian yang aku inginkan lalu tertawa untuk kebahagian.

Hei, siapa aku? Aku adalah manusia, dengan kepala, jantung, kaki dan mimpi…

Mari bersulang untuk lautan yang telah dan akan aku selami, untuk semua ikan yang salsa dan tango dibalik karang denganku, dan semua senja dan fajar yang bisa dan tak bisa aku nikmati… Matahari dan bulan, aku dan semua… Cheers!