"Three kind of friend ship, season, reason and life time"

— Bli Komang (Amed -Bali, 25 juni 2014)

Bandug -Banyuwangi, perjalanan kereta 24 jam

Ada yang bilang, bertemanlah dengan ketakutanmu, terbiasa dengan ketakutanmu akan membuat kamu semakin berani menghadapinya.
But i am not fear, i am sad…
Terlalu sedih untuk mengingat, terlalu sedih untuk menangis, terlalu sedih untuk mengenang.
Apa harus juga berteman dengan kesedihan? Apa air mata akan membuatnya terbiasa? Apa jika hati tidak ingin cepat mengering, boleh terus melupakan seolah-olah tidak pernah terjadi?

In memoriam…

Yang tiada kembalilah dalam ketiadaan,

Biarkan sekali lagi menggenggam tangannya, bersimpuh meminta maaf untuk semua kesalahan anak durhaka ini kepada ibunya. Jika waktu hanya berjalan lurus kedepan, biarkanlah doa ini saja yang memohon ampun dan kesejahterahan baginya. Bukannya tidak peduli dan mengabaikan apalagi melupakan, hanya saja ternyata hati ini tak cukup kuat jika harus melihat ke belakang lagi, dan tak sanggup pula membasahi dan menabur bunga diatas pusaranya. Demi detik-detik yang semakin cepat berlalu, hanya doa, ya… hanya doa, satu-satunya usaha dan hadiah baginya yang sudah tiada. 

Untuk semua ikan yang sudah mau menari denganku…

Minggu lalu, disuatu senja merah yang sejuk, aku sedang berdiri dipelabuhan besar dengan sejuta lalu lalang hiruk pikuknya. bis dengan asapnya, kapal dengan baling-baling besarnya dan manusia dengan kaki-kakinya yang lincah. Aku melihat keatas senja jingga itu, menikmati liuk layangan yang menari ditiup angin… Alangkah enaknya bisa terbang diangkasa begitu, bisa menyapa langit dan bersapa dengan kawanan burung yang tengah bersiap akan pulang. Layangan yang akan terus disana hingga pemiliknya ingin menurunkannya, yang tak bisa terbang bebas karena tali yang mengikat ke bambunya. Layangan yang hanya bisa pasrah terombang ambil lalu tersangkut dimana saja saat talinya putus, atau menjadi rebutan anak kecil yang menginginkannya…

Baru beberapa jam yang lalu aku masih menikmati asinnya laut, teriknya matahari dan indahnya sapaan para ikan cantik penghuni laut Jawa. Dan sekarang aku telah masuk lagi dalam dunia keramaian, dunia yang telah biasa. Pernah seorang teman membahas mengenai mimpi, impian… aku hanya tak pernah mengungkapan apa mimpi yang menjadi impianku. Bukan pesimis, bukan juga karena sibuk berfikir apa mimpi yang baik dan benar. Hal ini merupakan pertanyaan simpel dengan jawaban yang simpel juga, impianku adalah bahagia…

Hanya aja terkadang aku masih bingung mendefinisikan mimpi, impian dan bahagia. Tak semua orang berfikir mimpi itu adalah motivasi, sebagian lain menganggap itu adalah angan-angan, cita-cita masa kecil, ataupun hanya sekadar bunga tidur. Dan impian, kadang seringkali lebih mendekati obsesi, life goal, atau sekadar kata-kata penambah bumbu cerita saat berkumpul dengan teman-teman. Lalu bahagia, mulai dari hal kecil yang sederhana hingga suatu pencapaian yang luar biasa, bisa membuat seorang manusia bahagia.

Seperti aku, hanya melewati lautan dan menyentuh airnya saja sudah membuat aku bahagia, hanya dengan terpapar sinar matahari saja sudah membuat aku bahagia, hanya dengan memeluk kedua kucing kesayanganku saja sudah membuat aku bahagia. Ingat pertama kalinya aku menantang laut, apa yang tersisa hanya nekat, ketakutan sudah lama hilang dan keberanian telah membara menjadi kekuatan yang mendorong untuk berkata iya pada semua tantangan. Katakan saja iya jika mampu, kenapa harus menolak jika tidak ada alasan untuk berkata tidak?

Apa yang aku alami beberapa waktu belakang sedikit membuatku bingung,pencapaian tujuan, keinginan dan impian. Apa sebenarnya perbedaan ketiga kata-kata tadi? Aku melihatnya sama dalam bentuk dasarnya, namun berbeda dalam definisinya. Duniawi, begitu mungkin untuk definisi tujuanku, kembali ke fakta dan realita. Apa yang harus aku capai dalam hidupku? Karir? Keluarga? Materi? Pandangan manusia lain? Harga diri? Sekali lagi, itu realita…

Mari sedikit membahas mengenai realita yang sedang aku hadapi, aku yang menuntut diri sendiri agar dapat diandalkan, menjadi dokter gigi yang sukses dan dapat membina keluarga yang baik. Hal yang biasa memang, namun tamparan keras saat kematian ibu adalah hal mutlak, fakta, keyataan, yang memang benar-benar harus bisa aku terima.

Sedihnya bukan main sangat luar biasa begitu Tuhan memanggilnya secepat ini, itu pula yang lambat laun mengikis dinding benteng ego yang telah lama aku bangun dalam bentuk cita-cita, suatu keinginan. Inilah yang kini yang sedang bermetamorfosa menjadi senjata bagiku, aku tak tau apa akan menjadi cambuk atau malah jadi boomerang yang akan balik menyerangku. Keinginanku adalah bahagia, banyak cara mencapai bahagia, namun tak semua mulut manusia akan bungkam terhadap manusia lain. Aku tak ingin ada rasa kosong yang menyelip setelah tertawa, itu membungkam pikiranku, membuatnya berkecamuk mengenai salah dan benar.

Itulah kadang menjadi dewasa itu perlu, dapat membedakan antara hal-hal yang salah dan hal-hal yang benar, meskipun kedua hal tersebut seringkali hanya buatan manusia manusia yang tak ingin rugi dan dirugikan. Apa semua manusia ini memiliki isi kepala yang berbeda-beda? Kenapa? Apa yang sedang mereka pikirkan? Aku hanya penasaran… Dunia ini biasa bagi sebagian orang, hanya rutinitas. Dan aku ingin mengeluarkan sebelah kakiku dari dunia yang biasa ini, dan membiarkannya melangkah pergi mencari sendiri kebahagian yang memang aku inginkan. Sementara kakiku yang sebelah lagi akan mengikuti jejak orang-orang ini dalam rutinitasnya.

Impian, adalah semua yang tergambar jelas dalam benakku saat ini. Malam dengan seribu bintang, bulan yang terang dibalik rimbunnya nyiur dipinggir pantai dengan deburan ombaknya yang lembut, lalu aku yang berbaring diatas pasir kering sambil memegang sebotol minuman setelah menikmati langit jingga berubah kelam saat matahari pamit pergi. Itulah kenapa aku keranjingan mencari lautan dan pantai, bukan soal laut dan isinya, bukan soal pasir dan desiran anginnya. Tapi isi hati dan pikiranku saat itu, hanya ada satu kata yang dapat menggambarkannya dengan tepat, bahagia…

Apa yang menjadi tujuanku adalah bentuk keinginanku sendiri yang tercipta dari impian-impianku selama ini, pada dasarnya semuanya berarti sama, tapi definisi mereka berkesinambungan satu sama lain. 

Ada lagi yang lain, cinta,

Aku mencintai… Aku mencintai seorang laki-laki, aku mencintai setiap helai rambutnya seperti aku mencintai setiap butir pasir di pantai yang telah aku singgahi. Aku mencintai wangi tubuhnya seperti aku mencintai desiran angin lembut yang dibawa laut ke daratan. Aku mencintai setiap lekuk tubuhnya seperti aku mencintai ikan-ikan yang meliuk indah di balik karang. Aku mencintai setiap sentuhannya seperti aku mencintai cahaya matahari yang menerpa kulitku. Dan aku mencintai setiap senyumnya seperti aku mencintai malam cerah yang memamerkan bulan terang lengkap dengan bintangnya. Tulus, indah, tanpa rasa ingin memiliki, dan aku bahagia…

Bahagia itu simpel, meski banyak orang yang menentang setiap jalannya. Impian itu untuk dikejar, realita itu untuk dijalani, dan tujuan itu adalah benang layangan yang memegang erat saat layangan terbang jauh keatas menggapai langit. Tak ingin mempersalahkan, dan tak ingin selalu dibenarkan. Manusia itu tak ada yang sempurna…

Lalu aku? akan sibuk dengan impian-impianku selanjutnya, pergi mencari kesepian yang aku inginkan lalu tertawa untuk kebahagian.

Hei, siapa aku? Aku adalah manusia, dengan kepala, jantung, kaki dan mimpi…

Mari bersulang untuk lautan yang telah dan akan aku selami, untuk semua ikan yang salsa dan tango dibalik karang denganku, dan semua senja dan fajar yang bisa dan tak bisa aku nikmati… Matahari dan bulan, aku dan semua… Cheers!

"Bersama malam ini aku berdendang tentang kelam dengan bulan dan bintang yang sembunyi dibalik rintik hujan, mendefinisikan arti hidup seperti apa hingga matahari pun ingin tau dan menyembul dibalik ufuk timur belahan bumi. Tuhan, aku hanya tak ingin tersesat dalam ketidaktauan dan tak bisa bertanya tentang fakta, aku hanya ingin lepas dari semua kenyamanan ini kembali kejalan terjal agar aku tak terus-terusan jadi orang yang bodoh… Amin…"

— dari manusia yang sedang mengalami krisi kepercayaan

Satu cerita banyak deskripsi, a k a bullshit

Ada rusa yang kehilangan induknya, ada kancil yang bermain dengan kancil licik lainnya, ada anak kucing yang dipungut induk oleh kucing lain, ada singa betina yang tak mau lagi bergumul dengan singa jantan yang tak lagi menjadi pemimpin kelompoknya, ada anak anak manusia yang sibuk bersembunyi dibalik tawa tawa mereka yang entah apa yang mereka tutupi.

Sementara si rusa yang sibuk menangisi menahan rindu pada induknya kemudian kembali mengenang ingatannya tentang induknya, yang kini tak mungkin lagi dia lihat. Si kancil terlihat sangat senang bermain kesana kemari sambil terus mengawasi kancil kancil yang lain, berpikir kelicikan apalagi yang akan dilakukan kancil kancil temannya padanya dan siap siap jika suatu hari dia akan ditinggalkan, merasa dikhianati. Anak kucing sang petualang ini singgah disuatu tempat terbawa kawanan kucing lain, dan bertemulah dengan kucing betina yang punya anak banyak, ingat ibunya tidak tau dimana si anak kucing merasa nyaman dan enggan meninggalkan induk kucing itu hanya karena dia tidak pernah merasakan yang namanya hangat memiliki keluarga, rasa hampa dalam hatinya kini mulai terisi. Dan sang singa betina, si pemburu di padang savana, hewan buas yang siap menerkan mangsa dan mematikannya dengan hanya satu gigitan saja, baru saja mengamuk dan menghantam singa jantan mantan pemimpin kelompok mereka, sudah ada pemimpin baru didalam kelompok dan itu adalah hukum alam yang tidak bisa ditentang. Kemudian anak-anak manusia ini, adalah hal yang paling susah di deskripsikan, mereka menakutkan, bisa tertawa menahan perih, bisa bermulut manis berhati busuk, atau bisa berpura-pura tidak bisa dan terjebak dalam ketidaktauan padahal sudah mencoba segalanya. Hati manusia lebih dalam daripada samudra memang, tidak ada yang tau dan tidak ada yang bisa dipercayai.

Terjebak dalam rasa nyaman yang salah, sudah seharusnya salah dan sudah seharusnya diselesaikan. Akulah yang bukan siapa-siapa disini, akulah yang seharusnya pergi. Akulah disini yang bertanggung jawab, meski tak menginginkannya tapi tak pula mungkin dihindari. Akulah disini yang seharusnya kembali, bukannya menjauh dan tetap mejauh mendekati ego. Dan akulah disini yang terjebak perkara-perkara yang tak semudah apa yang aku pikirkan, dan hidup itu makin tua makin berat. Aku hanya kebingungan, tak ada tempat berpegang…

Surat Tertanggal 10 Maret 2014

Bandung 26 Maret 2014

Ma, malam ini aku lagi terlambat pulang, sudah lewat tengah malam, lewat jam biasa engkau menanyakan kabar.

Ma, aku biasa bilang rindu ingin pulang, rindu bertemu denganmu, tapi apa aku salah jika hari ini aku bilang aku rindu padamu?

Ma, tanganmu tak renta terakhir menyentuhku, apa ini memang sudah janjimu dengan Tuhan? Jika iya, maka akulah yang tak pantas tak rela.

Ma, lihatlah air mataku mungkin telah mengering kini, tapi aku berjanji doaku untukmu tak kan pernah mengering, dan terus mengalir.

Ma, aku tau Tuhan menyayangimu lebih dariku, lebih dari engkau yang menyayangiku, tapi apa memang aku sekuat itu untuk dipilih menjadi salah satu orang yang kehilanganmu?

Ma, aku belum jadi apa-apa yang bisa engkau banggakan, dan aku tidak mempersoalkan takdir yang telah Tuhan atur untuk kita, tapi apa harus sejerih itu? Dan apa aku salah mempertanyakannya?

Ma, malam ini langit mendung dihiasi rintik hujan, tanpa bintang, tanpa bulan, apa aku salah menangisimu saat ini dalam doaku untukmu? Apa salah rasa rindu ini hingga berharap engkau mampir dalam mimpiku malam ini?

Ma, apa disana engkau bisa melihat aku disini? Apa disana engkau tau jawaban dari semua pertanyaanku? Apa salah jika dalam hati terbesit keinginan untuk engkau kembali?

Ma, bolehkah aku mengenang semua memori tentangmu dan menghapus bagian sedihnya? Termasuk ketika terakhir aku melihatmu, dihantar dalam balutan kain putih ke peristirahatan terakhirmu, apa aku salah kembali tertawa jika mengingat kejadian konyol yang pernah kita lakukan?

Ma, apa aku boleh meminta pada Tuhan untuk membuatku bisa berarti banyak dalam hidup orang lain, seperti dirimu? Apa aku boleh meminta pada Tuhan untuk membuatku tumbuh dewasa dan menjadi sepertimu?

Ma, bolehkan malam ini aku menangis merindukanmu? Bolehkah aku mengenangmu ketika terakhir kita bertemu dan mengingat saat tanganmu melepas tanganku dan membiarkanku jalan sendiri?

Ma, aku rindu ingin bercerita denganmu, mendengar suaramu yang selalu lantang dan bersemangat…

Ma, aku rindu tidur didekatmu, aku rindu segala perhatianmu dan aku rindu melihat kebiasaan-kebiasaan yang engkau lakukan…

Ma, aku menyayangimu, selalu, dalam hati dan dalam doa, semoga disana engkau dapat merasakannya…

When you play a game

Banyak orang yang terburu-buru dengan pilihan dalam hidupnya, apapun itu. Bertanya-tanya apakah benar ini adalah yang terbaik, kemudian menyesali pilihan itu sendiri ketika semuanya tidak berjalan dengan baik. Berbicara mengenai hal ini, pernah ada suatu waktu ketika seseorang meminta menemaninya selama mungkin dalam hidupnya. Tidak dengan terburu-buru, dan tidak dibawah ancaman juga, aku bersedia. Tapi ketika waktu terus berjalan tapi semua hal yang dilalui bedua tidak berjalan dengan baik, apa masih ada kesempatan untuk menyesalinya dikala tak ada lagi keinginan memperbaiki apa yang  telah terjadi? Apa masih pantas masa lalu disesali? Apa masih ada kesempatan menghilang dan muncul lagi sebagai orang yang baru yang akan menjawab bersedia pada semua kemungkinan yang ada? Apa salah tidak lagi ingin mencoba memperbaiki dan kembali? Jauh… kata kata sesal itu makin lama makin jauh dan hingga kini tak pernah terpikir apalagi tersebut sekalipun, apa yang sudah terjadi tak bisa kita ambil lagi, apa yang sudah diberi tak bisa diminta lagi. Apa yang sudah aku tinggalkan tak akan aku pungut lagi, dan apa yang sudah aku tuangkan tak bisa aku tarik lagi. Apa yang patut disesali? Orang lain? Tidak juga… tidak ada tepatnya. Apa salah membiarkan orang lain tau aku sudah tak punya sesal lagi? Aku tidak berniat pamer, atau menciptakan suatu pengalihan semata. Tulus, tapi tak terbalas, dan orang lain tau. Hanya saja, akupun tidak tau sampai batas waktu mana ketidak-jelasan ini akan menjadi jernih. Bukan cuma keinginan dan harapan semata, aku hanya ingin keluar sejenak dari pikiranku yang berputar-putar ditempat saja. Aku cuma ingin tau apa aku salah berdiri disini tidak mengharapkan apa-apa tapi berusaha mengejar sesuatu, tanpa keinginan memiliki, hanya karena tertarik saja. Tidak ada masa lalu, tidak ada masa depan, hanya ada masa sekarang. Sebenarnya ada satu hal yang sangat aku inginkan dalam ketidakpastian ini, aku hanya ingin tidak ada yang berubah apapun itu, siapapun itu, dan kapanpun itu, tidak ada yang berubah, hanya itu…

Menunduklah

Sepanjang aku berjalan, inilah langkah terberatku. Bukan untuk meninggalkan atau ditinggalkan, tapi memutuskan untuk tetap tinggal, seperti ini, menunduk dirudung sedih dan sepi. Apa kabar gelak tawa yang biasa aku dengar, suara lantang dan kata kata pedas yang berhamburan. Tidak dengan siapa-siapa, hanya manusia biasa yang mencoba meraih dagu ku untuk melihat keatas. Apa daya ketika air mata yang telah membanjiri seluruh hati ini tumpah, semua rasa itu telah mengalir ke muara, hulu-nya tak lagi ada. Aku senang seperti ini, tak ada yang mengusikku, tak ada yang melihat ke mataku, tak ada yang memperdulikanku bahkan rasa rindu sekalipun. Wajahku menunduk tertutupi rambutku yang hitam pendek. Aku bukannya malu, hanya saja aku begitu tertarik melihat ujung jari kakiku yang seolah olah tertancap erat dalam tanah tak mau beranjak. Langkah ini semakin berat, aku sadar dan tau dimana aku sekarang. Aku sadar dan tau sudah saatnya untuk pergi, aku sadar dan tau aku sudah tidak seharusnya disini lagi. Tapi ujung jari ini menahanku dan hatiku juga tak kunjung ingin beranjak, apa ini salah? apa ini begitu terkekang? apa ini yang namanya mengikuti perasaan? tak ada yang tau bahkan diriku dan jari kakiku. Dengarlah, menunduklah, siapa kau yang disana yang melihatku sambutlah tangan ini, jadilah hulu ku yang baru bagi hati dan air mataku. Jadilah separuh hati ini milikmu, jadilah separuh jiwamu milikku…

One year

Ya, satu tahun…
Kita tidak bicara tentang masa lalu saat ini.
Mari kita duduk didekat rerumputan ditaman tak bertuan, menikmati senja yang telah lama berlalu sambil menghisap berbatang batang cerutu kampung.
Hanya kamu dan aku, lama dalam diam, berusaha mengosongkan cangkir yang telah meluap luap.
Tidak, aku sudah mencoba hanya untuk hasil yang sia-sia. Tidak, aku tidak ingin lagi menyangkal. Tidak, aku hanya berusaha tegas pada diri sendiri.
Aku merasa bodoh, bodoh dibodoh-bodohi rasa yang tak kian jera. Sakit itu adalah rasa yang nyata meski kasat mata, dan apa yang kita rasa hanya ilusi, tak pantas diperlakukan istimewa, kita tidak istimewa.
Coba lihat langit malam ini, menertawakan kita yang tersesat dalam jerih tak berujung, kata yang tak bersambung, rasa yang sebenarnya sudah penat hinggap dihati kita masing masing.
Yang kita butuhkan hanya waktu, untuk mengosongkan cangkir masing-masing.
Adakah kita yang dipertanyakan, menyerah dalam garis tangan yang berbeda. Adakah kita, yang jika suatu saat akan menapak jalan yang sama, tetap akan seperti remaja tanggung yang sedang jatuh cinta.
Karena hal yang pasti hanyalah ketidak-pastian.
Impossible,  kedengaran pesimis memang, tapi mungkin satu kata itu cukup untuk menjadi jawaban semua pertanyaan yang selalu terlontar dari kepalaku.




Waktu Sekarang

Yang tidak aku punya adalah waktu

Ketika besok itu menjadi hari ini

Dan hari ini yang menjadi kemarin

Malam dan siang berganti seperti hitungan jari

Satu…

Dua…

Tiga…

Kadang pikiran ini yang menyesatkan

Rasa yang kian lama kian semu

Dan semuanya jadi biasa saja

Bahkan rasa kesepian ini

Empat…

Lima…

Orang banyak yang ingin membunuh waktu

Atau berharap masa lalu akan terulang

Aku hanya ingin menikmati satu waktu saat ini

Tidak punya kenangan atau masa depan

Enam..

Tujuh…

Jangan salahkan keadaan yang membunuh perasaanku

Jangan salahkan diriku yang tak bisa bertahan

Jangan runut lagi waktu kebelakang

Jangan bicara lagi tentang masa depan

Delapan…

Sembilan…

Sepuluh…

Nah, matahari telah datang

Hari ini telah menjadi kemaren, dan besok telah menjadi hari ini

Aku tidak tau bagaimana denganmu

Aku tidak maju dan tidak pula mundur

Dan aku tak peduli lagi…

Waktu

Hari ini salah satu sahabat saya diwisuda, dan besok dia akan kembali ke Jakarta, kembali bekerja. Ya, dia diterima bekerja di Jakarta setelah sidang skripsi kemaren. 

Meski kami jarang bertemu, sedih juga mengingat dia tidak satu kota lagi dengan kami yang masih harus berjuang dengan ‘sekolah’ kami. Kembali waktu yang bermain, setiap kali ada yang lulus, setiap kali ada yang mendapat pekerjaan diluar kota, setiap kali itu juga saya menyadari kalau life cirkle itu sedang berjalan. Hari ini giliran sahabat saya, mungkin tahun depan giliran saya, but who knows?


Ada lagi satu cerita ketika kekasih saya harus bekerja di luar kota, kota yang jauh hampir diujung Sumatera, harusnya yang paling sedih adalah saya yang ditinggal sendiri disini. Tapi yang mengantar dia dengan air mata hingga masuk bandara adalah sahabatnya yang telah bertahun-tahun bersama sejak masih sekolah dulu. Sementara saya cuma bisa terdiam, tidak menangis atau bergabung dengan mereka, dari jauh hanya membisu menatap pemandangan haru yang baru kali itu saya lihat.

Ketika semua hal kita jalani bersama selama ini, ada waktunya kita akan jalan dijalan masing-masing sendiri, memilih jalan hidup sendiri, untuk cita-cita sendiri. Suatu saat akan ada waktunya bagi kami, kita, akan bertemu lagi. Mungkin saat kami telah menggendong anak-anak kami, atau ketika kami telah memiliki rambut rambut putih dikepala kami, dan yang kami ceritakan adalah masa-masa muda ketika kami bersama dan ketika kami sedang terpisah jauh… 

Semuanya hanya tentang waktu, lalu menunggu… :)

Today

Kangen, lagi lagi kata itu. Seperti cuma ada satu kosa kata itu yang ada, dan paling sering terlintas dalam pikiranku. Butuh waktu lama untuk mengerti maknanya, dan butuh waktu lebih lama lagi untuk menyadari aku sedang merasakannya. Senja senja mendung dan malam yang dibasahi hujan, membuat kenangan tak cukup lagi menghangatkan suasana yang kian pekat dinginnya.

Lidah yang kelu terus terusan membuatku jengah, seperti portal, ada sesuatu yang menghalangiku… Padahal kita sama sama tau, rasa dan rasa dan rasa itu ada, kita punya masing masing. Aku hanya membiarkannya berlalu daripada menggubrisnya, seperti angin yang mengayunkan nyiur, aku hanya berlalu…

Ada kabut yang tak berurai, mengaburkan pandangan sehingga aku tak bisa melihat dengan jelas. Masih ada yang harus dipertanyakan, meski aku tau jawabannya, tapi aku tak pernah cukup merasa puas. Lalu aku mulai mempersalahkan sesuatu, dan sesuatu itu seperti kabut yang tak berurai…

Lingkaran infiniti itu yang terus terusan memenjarakan opsi, opini, dan opportunity. Maka tidak beruntunglah dia saat itu… Sekiranya memang ini yang tertulis untuk kita, aku tak ragu ragu untuk terus mencatat, meski jari akan keram dan akan ada air mata untuk menghapus tulisan yang salah. 

Untuk kamu yang masih linglung melangkah, lihat aku disini masih tetap berdiri, hanya aku terlalu malas bersamamu untuk melangkah dan mengejar sesuatu yang masih bebas, kesana kemari… Kemarilah… Genggam tanganku erat ketika kau sudah mengikat tujuanmu, dan ikatlah bersamaku.

Kemarilah, peluk aku… 

FREEDIVING

Kegiatannya cuma menahan napas selama mungkin dan berenang sejauh mungkin didasar air, what a simple thing to do…

Tapi jauh dibalik itu ada sesuatu, its something…

Ketika jemari kaki merasakan dinginnya air, dan tangan mulai menyibak isi kolam, lalu tawa dan canda orang orang yang sibuk memasang fin dan masker. Judulnya pemanasan, tapi lebih banyak gerakan tidak penting karena sibuk diganggu gugat pihak lain, ada pula yang memilih langsung terjun kekolam dengan alasan tak tahan melihat air.

Dari pagi hingga petang menjelang, satu hari itu rasanya tak lepas rindu melihat air. Tak puas puas bahkan hingga kulit menghitam, tapi tetap dengan bangga berteriak saya cinta air…

Ada suatu saat ketika kita akhirnya bisa merasakan yang namanya “air” sungguhan, berasa asin dan tidak ada dikota Bandung. Beribu ribu biota laut mampu hidup dikolam raksasa itu, dan kita begitu bangga bisa menyelam disana, merasakan dan melihat yang namanya hidup di “wadah” yang berbeda.

Hidup… Wajah wajah sumringah itu selalu terkenang, hidup dalam ingatan, bahkan ketika kembali latihan kekolam, meski letih terombang ambing dikapal dan menempuh jalan darat sedari dini hari dan pulang larut malam, tidak ada kata kapok dalam niat meski bulu babi dan ubur ubur menyerang, demi melihat penyu liar dilaut lepas dan ikan nemo yang menari di anemon laut kami berani bersumpah, bahwa akan banyak lagi lautan yang akan kami cicipi. Ada banyak lagi hingga kita tak dapat lagi menggerakkan fin fin dikaki kita…

Hingga tak dapat lagi menggerakkan fin dikaki, adalah waktu yang tak hingga… Selama lautan lepas masi berisi air asin, kami akan terus berjaya meskipun tiap minggu harus terus menghitam di kolam UPI, our “home”…

I called it home, because i think i found a new family here

A smile, a laugh, and everything we share is “one breath”, satu nafas, berlomba lomba siapa yang mampu menahan napas paling lama saat latihan statik dan menjadi idiot sama sama karena terlalu sering latihan statik, thats okey as long as we do it together, i think we should doing yoga after that sometimes… 

Senang bertemu teman yang satu misi mencicipi lautan, mungkin suatu saat salah satu kalian yang akan menjadi buddy saat saya menyelam bersama whale shark di Nabire Papua, mungkin juga salah satu kalian yang membuat mimpi saya menjadi kenyataan, tapi setidaknya saya punya cerita untuk anak anak saya kelak, bahwa saya punya pengalaman yang amazing diwaktu muda, hahaha…

Terimakasih freediver Bandung,

Terimakasih…

Salam satu nafas, freedriver INDONESIA

Ada masa ketika aku terpaku menatap cermin, memandang pantulan wajah lusuh yang tanpa senyum, memandang kosong pada kehampaan dan binar mata yang kian meredup. Wajah itu terlihat letih, kusam dan tidak menunjukkan suatu ekspresi, hingga suatu ketika sudut bibir itu kian mencekung, bungkam cemberut, dan melenguh lelah, dan kemudian memejamkan mata lalu tertunduk. Entah apa yang aku pikirkan saat itu, yang kurasa hanya sendiri… 

Aku merasa bersalah, aku kehilangan semangat, aku membiarkan diriku ikut terhanyut perasaan orang lain, aku biarkan pengaruh itu tetap mempengaruhiku. Banyak berbicara hanya membuat suara hilang, banyak melihat hanya akan membutakanmu, banyak mendengar hanya membuatmu mendengarkan ocehan-ocehan sumpah serapah setan yang berapi-api. Siapa yang bisa dipercaya?